Pages

Showing posts with label Menggumam. Show all posts
Showing posts with label Menggumam. Show all posts

Sunday, February 2, 2014

Kemudian

Terlambat....
sesal datang dengan tergopoh-gopoh,
membawa belati yang menusuk tulang rusuknya sendiri, hingga patah sang belati.
hancur tulang rusuknya seperti hatinya yang kini berserakan disana-sini.
bercucuran air mata bercampur darah, mengumpulkan serpihan hatinya yang kini telah mati.
telah menjadi buih buah bibir.

rindunya telah diharamkan, cintanya telah dikaramkan oleh segerombolan preman.

hidup ini teatrikal, prolog sering dikalahkan oleh epilog yang naif, padahal pemirsanya mendamba ending romantis.

Sunday, October 27, 2013

"Ketika jiwa dihadapkan pada logika dan raga diludahi realita, nyata akan terlihat semu di depan mata"


#SelamatPagi

Tuhan menciptakan mentari agar kita selalu bersyukur atas pagi. bersyukur atas nyawa yang diberi (lagi). dibebaskan untuk kita memulai hari, dan kemana kaki melangkah hari ini. Segalanya adalah pilihan, segalanya adalah persimpangan, tinggal kita memutuskan untuk memilih kiri atau kanan, atau lurus kemudian balik kanan.
Bayangan itu bernama resiko, yang kemudian menjadi beban atau sekedar batu kecil yang ringan. Tersenyum saja pada sesama kataku. Perkaya ilmu perkaya teman sehingga batu kecil yang ringan hanya akan sekedar menjadi senyuman di setiap langkah kita berjalan.
Apa yang menjadikan kita terobsesi pada idealisme diri sendiri yang terkadang menusuk menyakiti orang lain?
intermezo kata hati yang kemudian mencaci maki diri sendiri. kenapa bisa begini? kenapa malam berdusta pada pagi? sekedar intuisi tanpa intonasi. atau luapan emosi tanpa tau kapan akan diakhiri. 

Friday, September 20, 2013

#Ratau-taune

Ratau-taune angin mbegagah angetoki
Rasa sing tumati

Ratau-taune banyu sumentak gabyah uyah
dirasani kala titi tansah gumebyah

Ratau-taune ati diiris blathi
Sumeleh rai ana ing ngisor lathi

Ratau-taune wulan ndhelik
Peteng ndhedhet awane paceklik

Ratau-taune bayang kumambang
Racetho wujud gamblang

Kabeh iku ana wancine,
Kabeh...
Aja gumambleh.

Manungsa mung isa seleh,
Aja dumeh.

Wednesday, September 4, 2013

Teruntuk Masa Muda

Nusa Tenggara, 11 Agustus 2013

Yth, Masa Muda

Salam,
Apa kabarmu disana?
kudengar kamu tak baik-baik saja.
kudengar kamu ingin aku kembali ketempatmu dan bersenda gurau dengan bunglon yang sedang mimikri di lembaran teratai.
kudengar dari temanku aku terlalu serius hingga melupakanmu dulu. lupa mencarikanmu teman yang lainnya hingga kamu tak pernah merasakan eloknya senja di tepi pantai dan fajar di puncak gunung bersama-sama.
kudengar kamu bilang aku egois, aku hanya peduli dengan diriku sendiri dan tak peduli dengan kucing yang terlantar lapar di pinggir jalan.

Masa Muda, kini aku sendiri. terlampau sepi hingga sepi pun bosan denganku. Seandainya bisa kuberlari dan memelukmu.
Tapi tak bisa.
Aku sudah diujung tua.

Thursday, August 29, 2013

Seandainya Tak Ada Batas Ruang dan Waktu

Seandaninya tak ada batas ruang dan waktu, akan kutunggu dirimu sampai robek sepatuku. Kusalami pelangi satu-satu sampai hilang terganti senja, lalu malam kembali ke Mentari. Pada dasarnya, dasar akan selalu dasar dan terkadang hanya datar. Tapi tak begitu cintaku pada semburat Bulan yang menengadah meniupkan fluid-fluid anggun ditengah lautan gelap yang diteranginya.

Seandaninya tak ada batas ruang dan waktu, apa dayaku pada senyuman semanis pagi yang menyapa tanpa alas kaki. Selihai bidadari menari diatas arus mainstream namun terpeleset dan masuk di pusaran kita. Itu takdir.

Seandainya tak ada batas ruang dan waktu, mana bisa aku menahan rindu yang melulu dibatasi tembok-tembok tua nan hina. Dibatasi rel kereta yang dipagari jeruji besi hingga kunang-kunang pun tak bisa melewati. Aku heran, pada Bulan yang setia menunggu 30 hari sampai ia menjadi bulat dan sehat. Aku? sedetikpun.

Seandainya tak ada batas ruang dan waktu, mengandai pun aku tak sanggup.

Yogyakarta, 29 Agustus 2013.

Friday, June 28, 2013

Segundah

Sedikit ingin bercerita tentang yang tak ada habisnya. Cerita tentang teman dan kebodohan-kebodohannya. Cerita tentang ceria dan suka ria. Cerita tentang emosi yang menggebu dikala kusembunyikan sepatu.

Masa ini adalah masa dimana ribuan langkah bertumpu jadi satu. katanya akan mengguncang dunia yang kadang hanya bualan saja. Menggelitik obrolan tematik tentang orang-orang sekitar, tentang teman yang rambutnya seperti akar rumput, atau tentang teman yang bau mulut.

Tak ada sakit hati, apalagi patah hati yang seringkali menghantui ABG-ABG masa kini. semua dilakukan diatas fondasi persahabatan yang hanya mengenal aku, kamu dan kita adalah satu. saling menolong bahkan ketika teman berak di celana.

Sepertinya baru kemarin kita digunduli kakak angkatan lalu berteriak lantang tentang kesolidan, tentang melebur dalam keluarga, tentang janji yang harus ditepati. sepertinya baru kemarin kamu menyalamiku, berkenalan lalu membuat lagu.

Sekarang sudah uzur, sudah di akhir umur. di ujung jalan dimana kita hampir berpisah pada banyak pilihan. bahkan ada yang sudah tau jalan pintas, katanya. Kita tak tahu apakah pilihan akan mempertemukan kita pada satu tujuan, atau kita hanya berjalan sendiri tanpa teman.

Atas nama samadya, Semoga kita bersuka cita.

Sedemikian Sehingga

sedemikian sehingga daun-daun yang dulu hijau, kini kuning dan meracau
sedemikian sehingga kuda-kuda yang dulu gagah, kini lesu penuh kesah
sedemikian sehingga kayu yang dulu kuat, kini lapuk dan sekarat
sedemikian sehingga bulan yang dulu terang, kini redup berantakan

"hidup adalah awal dari awal yang mati, yang adalah awal dari hidup abadi"

Tuesday, June 11, 2013

Refleksi Pagi

hahahaha,
Kadang lucu memikirkan sesuatu di luar jangkauan pikiran manusia. Kadang muncul pertanyaan, mengapa Tuhan menakdirkan saya berada di jalan yang sekarang saya tapaki. Mengapa tidak di jalan lain? apakah keputusan kita menentukan takdir kita? atau sebenarnya keputusan kita juga sudah ditakdirkan? Subhanallah, Wallahualam.

Saya hanya iman, percaya akan semua yang telah direncanakan Tuhan, karena Tuhan Maha Tau hamba-hamba-Nya. Bersyukur saja dengan apa yang telah diberikan sekarang, banyak nikmat yang kadang kita lupakan sebab kita hanya terlalu fokus pada ambisi kita yang tak akan pernah ada habisnya.

Mungkin dalam opini saya ambisi berbeda dengan visi (hidup). Definisi ambisi dalam kamus saya adalah memaksakan kehendak, menghalalkan segala cara dan menyalahkan Tuhan bila ambisi itu tak terwujud tanpa melihat hal-hal yang harus disyukuri di sekitarnya. Sedangkan visi adalah kebalikannya. Kebanyakan orang-orang yang berambisi akan lupa dengan sekitarnya bila ambisinya telah terwujud, karena ia merasa bahwa ambisinya terwujud karena dirinya sendiri dan tidak atas bantuan orang-orang di sekitarnya.

Tuhan pasti tau mengapa saya berada di jalan yang saya jalani saat ini, mengapa Matahari terbit dari timur dan tenggelam di ufuk barat, mengapa harus ada angin laut dan angin darat, dan mengapa saya dipertemukan dengan teman-teman yang 'hebat'.

Kembali lagi ke visi dan ambisi, adalah opini saya bila manusia-manusia yang berambisi akan melihat teman-teman yang 'hebat' itu adalah sesuatu yang harus dimusnahkan dan dibumihanguskan, hanya mengganggu jalannya menuju mimpi. Sedang manusia bervisi akan cenderung melihat hal tersebut sebagai jalan yang diberikan Tuhan untuk mencapai segala tujuan dan cita-cita, atau bahkan saling membantu untuk mencapai setiap cita-cita masing-masing.

Wallahualam, hanya Tuhan Yang Maha Tau.

Monday, June 10, 2013

semestinya begitu

lidahku kelu, katanya ia berkilah untuk bersilat, malas untuk berperang, malu untuk bergerak menjatuhkan. sayang lidah tak punya otak,sayang lidah tak punya hati. bergerak semaunya sendiri tanpa mengerti prosesi. benar adanya jika lidah hanya berludah jika terlalu banyak ulah.

Saturday, June 8, 2013

#Refleksi

menjadilah abu hati yang terbakar api masa lalu
menjadilah rata dengan tanah rindu yang dibumbui cemburu
menjadilah hancur lebur kerikil asmara berlapis nafsu saja
menjadilah serpihan kaca-kaca yang direfleksi angkara murka

Thursday, June 6, 2013

MERINDU SENJA

sudah lama nir-sua senja
kata orang, senja bertolak mencari malam
tersesat di padang pasir, lalu menatap lintang
"JANGAN!" , kataku
jangan kau hitung satu-satu sebab rinduku kontinyu


-KIJ-

Monday, May 27, 2013

Sebuah Opini tentang Social Media

Saya sekedar ingin berpendapat tentang beberapa kejadian di jogja kemarin. Tentang sakralnya sebuah peribadahan di Borobudur yang kemudian dihiasi konflik antara wisatawan dan rohaniwan, lalu tentang locstockfest2 yang berakhir sangat tragis (Semua pasti tau mengenai meninggalnya ketua panitia acara tersebut)
Kedua kejadian tersebut tak lepas dari sumbangsih social media, dimana kita terlalu mudah untuk menghakimi, terlalu simpel untuk mencaci maki kemudian seluruh dunia mengetahui.
Seperti api dan air, dalam kapasitas kecil, kedua benda tersebut adalah teman yang bermanfaat bagi kehidupan, namun dalam kapasitas yang besar api dapat membumihanguskan , air dapat menghancurleburkan.
Tidak munafik, saya juga sempat terbawa emosi dengan beberapa statement orang2 mengenai kedua hal tersebut, namun setelah meninggalnya alm. Yoga Kebo, saya tersadarkan akan sesuatu yang belum pernah saya temui selama saya hidup, bahwa "Penghakiman yang berlebihan melalui social media adalah sesuatu yang sangat berbahaya" setara dengan pembunuhan, penghasutan, pencorengan nama baik yang tidak dapat dipungkiri lagi. Padahal beberapa statement yang dikeluarkan merupakan opini dari satu atau dua orang yang kemudian menjadi opini publik dan berakhir caci maki dan penghakiman publik.
Manusia mana yang tahan dengan hal seperti itu, hukuman yang lebih berat dibandingkan dengan seumur hidup dipenjara. Yang bersangkutan akan merasa sangat tertekan karena seluruh dunia dapat mengetahui aibnya, aib berupa materi yang tidak setara jika dibayar dengan nyawa.
Social media yang seharusnya menjadi sarana bersenang-senang dan berhubungan dengan orang lain sehingga menjadi lebih mudah, disalahgunakan menjadi sebuah senjata yang bernama opini publik yang kemudian menghancurkan seseorang padahal hal tersebut belum tentu benar adanya.

Dalam kasus Borobudur, social media memecah opini publik, di satu sisi membela dan di lain sisi menjatuhkan. Pemecahbelahan opini bak strategi politik VOC "Devide et impeera" atau "Politik Adu Domba" dalam versi modern secara tidak kita sadari.

Saya mengajak, mari kita kembalikan fungsi social media sebagaimana mestinya dan porsinya. Kita adalah bangsa terpelajar yang berpikir sebab dan akibat dari apa yang kita lakukan. Kemerdekaan berpendapat adalah mutlak, namun berpikirlah secara logis apabila pendapat anda dapat membunuh orang lain. Nasi telah menjadi bubur, hal tersebut seharusnya kita jadikan pelajaran yang sangat berharga.

Salam.

#Nb : Saya turut berbelasungkawa atas meninggalnya almarhum Yoga Kebo, semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya. Amin

Thursday, April 25, 2013

#Syukur

Hari ini, senja menyelam dalam lalu. Menulusuri tapak-tapak bias rasa yang membenalu. Jejak itu bercerita sederhana. Berteriak dalam diam hingga menggema dalam palung relung meraung-raung. Cerita ini cerita singkat tentang perjalanan seorang bajak laut yang menemukan harta karun setelah puluhan tahun, atau tentang padi yang menari dan bernyanyi hingga menguning.

Secarik kertas saya tarik dari tumpukan debu lalu pena mulai menggores kata rindu. Serasa hati ini tak cukup menanggung berton-ton adrenalin yang bergerak bersamaan secepat neuron-neuron yang berkerumun dalam celebrum. Hingga meledak seketika.

Pikiran bergerak sekilat cepat menuju mesin waktu yang telah terbentuk dalam bayang. Menekan tombol-tombolnya dan bergerak mundur ke masa lalu. Saya melihat riang terbawa angin dan bersenang-senang disana, lalu kemudian hilang dihempas badai hingga riang dan senang kemudian menjadi kelam dan suram.

Menebak takdir Tuhan, mencoba menerka apa yang difikirkan oleh Yang Maha Berfikir. Mungkin riang dan senang di masa itu bukanlah yang terbaik untuk saya. Lalu tanda tanya muncul seketika di dalam kepala. Kenapa kita tak pernah bisa terbang dari bayang masa silam (?) tak pernah bisa melarikan diri dari rindu yang hakiki (?)

Syukur menjawab semuanya, menjawab bahwasannya harta karun yang dicari bajak laut selama puluhan tahun adalah masa depan, dan padi harus bersabar untuk menjadi emas. Kemudian saya kembali menekan tombol mesin waktu dan kembali ke masa kini, terlihat disana kesenangan yang luar biasa, yang selama ini tak terlihat karena tertutupi awan gelap yang bernama nafsu. nafsu untuk ingin memiliki segalanya tanpa berterimakasih akan apa yang telah diberi oleh-Nya, dan saya terjatuh dan tersungkur dalam sujud...... syukur.

Sakti Aji Nugroho
Yogyakarta
25 April 2013

Friday, March 22, 2013

Menghitam

Titik titik jingga berpendar kala suna beterbangan terbawa angin sepagi tadi
Bepergianlah gelap ke selat asmara
Antara rasa dan logika
Semampai saja kamu berjalan pada tapak masa suram
Membusungkan dada perlahan menjadi tenteram

Mataku dipagut mesra seketika
Oleh hati yang terlampau mati
Bias, cahaya membias pudar
Ditemani sepi yang memetik gitar

Wahai jingga yang terangnya sama suram
Wahai jingga yang temaram
Wahai jingga yang menyelam pada diam

Disini sekelompok warna tiba-tiba menjadi gelap
Terlalu percaya pada warnanya hingga menghitam
Terlalu jauh bepergian hingga sesat
Mata matai saja mata-mata yang tak punya mata
Perlakukan mereka dengan peluh tanpa keluh


Yogyakarta 21 Maret 2013

Monday, January 21, 2013

Love Isn't a Lust

Baru baca artikel dari blog sebelah,
Ada pernyataan yang sedikit menggelitik pikiran saya. Bahwasannya Love is not a Lust. Yap! saya setuju. Love is a Lust for a looser. If you look somebody physically, kamu cuma mau fisik seseorang itu. Yaudah pacaran aja sama fisiknya, ngga usah peduliin sifat-sifat yang ada di dalam fisik itu.

People change, setiap orang itu pasti berubah dan belajar dari kesalahan-kesalahan yang dulu pernah diperbuat. Tinggal apakah kepercayaan bisa kembali atau engga.

Make sense,

-Sakti Aji Nugroho-
Yogya, 21 Januari 2013

Sunday, January 20, 2013

Cerita di Abra Acala

Kamayan, aji diantara nafas ambegan.
Puluhan nyawa terhempas angin kamayan.
Mindhak punden berundak.
sekethip-sekethip hingga dewi sri memberi pati.
Sri Panduka Begalang Timur bertitah untuk kita tak berulah.

Turunlah Ia wahai Pengampun Dosa-Dosa.
Kami parajaya tak pernah berdiam.
Berseteru kepada bisu yang membungkam sama lain.
Di Abra Acala, mata terbungkam bisu.
Tak percaya apa yang dilihatnya tiada.
Tak mengerti apa yang didengarnya tak pasti.

Runtuhlah Abra Acala dengan segala kemegahannya.
Matilah raktyatnya dengan segala mimpi-mimpinya.
Di puncak Abra Acala tak pernah ada sisa.
Hanya potongan kepala yang berserakan sini-sana.

Ia mati,
Tak pernah lagi warna-warni.

-Sakti Aji Nugroho-
Yogyakarta, 20 Januari 2013.

Tuesday, January 1, 2013

HAPPY NEW YEAR

Senin, 31 Desember 2012, rencana saya akan mengadakan syukuran kecil-kecilan bersama teman-teman mensyukuri apa yang telah saya, hekal, dan prama dapet di akhir Tahun ini.
Sebuah obat kecil di tengah banyaknya permasalahan berkehidupan.
Suasana malam itu menjadikan saya sadar bahwa saya memiliki keluarga kecil disini, diantara banyak keluarga yang saya miliki diluar sana. Semuanya bersuka cita menyambut datangnya Tahun Baru 2013, we sang together, we made stupid things together and ended by cheers of self resolution on 2013.
Saya mengawali Tahun ini dengan kebahagiaan, semoga selama proses dan akhir tahun ini juga banyak kebahagiaan yang akan terwujud.
Tuhan Maha Tahu, apa yang umat-Nya mau, tak perlu khawatir akan hasil, karena Tuhan Maha Berfikir. Hanya usaha yang dapat kita lakukan untuk menjadi individu-individu yang berkarakter kuat dan bernilai guna bagi keluarga, bangsa dan negara.
Beberapa Tahun lagi, generasi kita yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan menjadi motor-motor penggerak pembangunan negeri ini, semoga Tahun ini menjadi langkah awal kita menuju kesana.
Happy New Year 2013 my beloved friends, and especially for "you" :)
Semoga apa yang menjadi resolusi kita bisa terwujud dan bukan hanya sekedar wacana.
I Love You All
Maaf kalo postingannya kaya bahasa anak SD.

Monday, December 31, 2012

Untitled

Who cares?

   Who cares?
       Who cares?
          Who cares?
               Who cares?
                   Who cares?
                        Who cares?
                            Who cares?
                                  Who cares?
                                         Who cares?
                                                  Who cares?
                                                           Who cares?
                                                                   Who cares?
                                                                             Who cares?
                                                                    Only You, did!

Tuesday, December 25, 2012

Surat Buat Made


Lot, Desember Dua Ribu Sepuluh,
Mimpi itu bercermin pada rapuh,
Tak sadar bila wajahnya melepuh,
hatinya tinggal separuh.


Malam ini malam natal,
Para katak tampak berdiam diri di balik bantal,
Sedangkan hidup masih saja dipintal,
Seperti benang kusut, bikin mual.

Melayang saja mimpi terinjak-injak,
Terbawa angin dalam sajak,
Melalui senja yang terus terisak,
Aku bernafas dalam sesak.

Made, Aku bersama senja menemukan mimpimu di balik karang,
Di tumpukan rindu yang kian menjulang,
Kamu tak usah khawatir,
sebentar lagi juga hilang.